vendredi 6 avril 2012

Ceritera Dibalik Pameran Wayang Indonesia di Amiens

Culte des ancêtres
Marionnettes tribales sacrée d’Indonésie
Par Frédéric Héduin
Setelah selesai rapat membicarakan tentang pemilihan dewan perwakilan mahasiswa di Universitas Amiens dengan sebuah organisasi kemahasiswaan, kaki saya hendak melangkah maju menuju perpustakaan, bukan untuk membaca buku atau meminjam buku, tapi untuk melihat pameran seni yang rutin diadakan oleh perpustakaan. Kali ini pameran foto tentang dokumentasi  di Jerman. Disebelah tangga ada papan pengumuman, dengan poster yang bergambar tiga wayang orang yang berjudul “Culte des Ancêtres” yang artinya
menyembah leluhur, dan dibawahnya berisi “Marionnettes Tribales Sacrée d’Indonésie Par Frédéric Héduin” yang artinya wayang suku yang sakral dari Indonesia oleh Frédéric Héduin.
Pameran ini sedang berlangsung di ruangan khusus dekat kantor presiden universitas, bukan sembarangan pameran yang bisa dipamerkan di  ruangan khusus seperti ini. Namun anehnya hanya sedikit poster dan selembaran yang tersebar mengenai pameran ini. Saya langsung saja menyinggahi pameran wayang dan patung yang ternyata diadakan oleh seorang dokter umum di universitas. Sesampainya disana tak seorangpun yang nongkrongin pameran ini, maklum ini pameran sudah berlangsung sejak 22 maret lalu dan akan berakhir 7 mei. Sebagai mahasiswa Indonesia seharusnya saya tahu kalau akan ada pameran ini, namun tidak ada kabar dari pihak manapun akhirnya getaran batin yang menggerakan saya. Pada saat melihat salah satu patung kayu yang berasal dari Batak Sumatra, yang konon katanya berumur ratusan tahun, tiba-tiba presiden universitas yang bernama Georges Fauré menghampiri saya dan mengatakan ini patung favorit saya, sangat indah, sambil bercanda beliau sebenarnya ingin mencuri patung ini untuk dibawa pulang tapi ada kamera yang mengintainya.

Karena rasa penasaran tentang pameran ini saya langsung menghubungi sang dokter untuk membuat janji bertemu dan beliau berkenan untuk bertemu langsung pada saat itu juga dan bersedia untuk diwawancarai. Setelah beberapa menit menunggu beliau datang dan langsung bertanya asal saya dari pulau mana dan memberikan kartu namanya, lalu saya perkenalkan diri saya dan maksud untuk bertemu. Setelah itu beliau mengenalkan dirinya adalah seorang dokter di universitas, dan sebelumnya beliau adalah seorang pewayang tradisional di usia 12 tahun dan 6 tahun kemudian beliau berhenti sebagai pewayang untuk memulai kuliah kedokteran. Beliau menjelaskan bahwa di Prancis juga ada wayang tradisional dan salah satunya di Amiens, namun bukan dengan bahasa prancis tapi dengan bahasa tradisional Amiens yaitu bahasa picard. Sama halnya dengan wayang di Indonesia biasanya kita menggunakan bahasa jawa dalam pewayangan Jawa, bahasa bali dalam pewayangan Bali. Kecintaannya terhadap wayang tidak berakhir begitu saja, walaupun sibuk dengan aktivitas kedokterannya beliau tetap menaruh perhatiannya terhadap wayang dengan cara mengoleksi wayang-wayang di seluruh dunia selama 40 tahunan lamanya, ada Indonesia, Thailand, Sri Lanka, Cina, Jepang, India, dan negara-negara Eropa dan Amerika. Beliau mengatakan bahwa di era 70-80’an yang lalu lebih mudah menemukan wayang-wayang Indonesia di Prancis dan sangat banyak. Wayang Indonesia pertama yang beliau punya adalah wayang dari salah satu tokoh Korawa. Saya bertanya dari mana beliau mendapatkan semua koleksinya dia membelinya di Prancis, Belanda, dan Internet. Pasti anda heran kenapa tidak ada satupun yang dibelinya langsung di Indonesia? Wong beliau aja belum pernah ke Indonesia.

Saya dan dr. Frédéric Héduin
Karena fakultas seni di Amiens sedang menyiapkan ijasah dengan jurusan tentang pewayangan tradisional seluruh dunia maka terlahirlah ide beliau untuk memperkenalkan salah satu wayang  tradisional yaitu wayang Indonesia melalui pameran ini, disamping itu beliau juga ingin menunjukan kekagumannya tentang keseimbangan keberagaman budaya dan agama di Indonesia yang bisa hidup rukun satu sama lain, istilahnya Bhineka Tunggal Ika berbeda-beda tetapi tetap satu. Itulah yang ingin ditunjukan kepada orang-orang Prancis yang saat ini masyarakatnya sangat rawan konflik antar umat beragama. Beliau juga menjelaskan bahwa di pewayangan juga kita biasanya menceritakan tentang sejarah dan politik, dua orang tokoh politik Indonesia yang beliau kagumi adalah Soekarno yang bisa menyatukan kebesaran Nusantara menjadi satu kesatuan yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Gus Dur adalah seorang tokoh yang sangat pluralisme.

Tak lama kemudian Mr. Georges Fauré muncul lagi, masih dengan ketertarikannya terhadap patung yang berasal dari Batak itu dan keinginannya yang kuat untuk membeli, namun sang kolektor menolaknya. dr Frédéric Héduin pun bercerita bahwa di Batak konon katanya orang-orang yang sudah meninggal arwahnya masuk ke dalam patung-patung, nenek moyang mereka sudah bersemayam didalam patung ini dan saya sudah terikat batin dengan beliau, gurauan sang dokter.

Beginilah kisah dari sang dokter yang saya sebut sebagai dokter wayang, yang kenal dan cinta budaya Indonesia melalui wayang-wayang dan patung-patung tradisional Indonesia.

Nyoman Krisna.



 

Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire